Candi Sewu, Sisi Lain Kompleks Prambanan

Salah satu sisi relief Candi Sewu

Ketika kita mengunjungi Candi Prambanan, mungkin kita tidak menyadari bahwa disekitar komplek Candi ini masih terdapat candi-candi lain yang ukurannya lebih kecil. Salah satu candi dimaksud adalah candi Sewu.
Candi Sewu masih berada dikompleks Taman Wisata Unit Prambanan, tepatnya berada di sebelah utara dari Candi Prambanan. Letaknya yang sedikit kearah utara dan ukurannya yang lebih kecil ini mungkin menjadi penyebab pengunjung tidak mengetahui keberadaan candi Buddha terbesar di Jawa Tengah setelah Borobudur ini.
Candi Sewu dibangun pada pada akhir abat VII M. Pada tahun 1960 ditemukan prasasti yang berangka tahun 714 c atau 792 M, yang salah satu isinya menyebutkan adanya penyempurnaan bangunan suci bernama Manjus’rigra yang berarti rumah Manjusri, salah satu Boddhisatawa dalam agama Buddha. Prasasti ini mengindikasikan kemungkinan nama asli Candi Sewu adalah Manjus’rigra.
Candi Sewu rupanya merupakan komplek candi yang cukup luas. Di dalamnya kita dapat menemukan 249 buah bangunan yang terdiri dari satu candi Induk, 240 Candi Perwara dan delapan Candi Apit. Candi Induk memiliki bilik utama dan empat buah bilik penampil yang masing-masing memiliki pintu. Sementara Candi Perwara dan candi Apit seluruhnya terdapat pada halaman kedua.
Candi Sewu secara vertikal dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki, tubuh dan atap candi. Seluruh bangunan terbuat dari batu andesit kecuali inti bangunannya yang terbuat dari tatanan bata merah yang membentuk kubus. Struktur bata merah berbentuk kubus ini tidak dapat dilihat dari luar karena letaknya berada di dalam bangunan. Pada kaki candi terdapat sederetan hiasan relief yang menggambarkan motif purnakalasa atau hiasan jambangan bunga, juga “arca” singa pada setiap sudut pertemuan antara kaki dan struktur tangga. Selain itu pada sisi luar pipi tangga yang ujungnya berbentuk makara, terdapat relief yang menggambarkan seorang yaksa, kalpawrksa, dan jambangan bunga berbentuk sankha.
Cinding tubuh candi membagi bangunan menjadi 13 bagian yaitu satu bangunan tengah, empat lorong, empat selasar dan empat penampil. Setiap penampil mempunyai pintu ke luar dan pintu penghubung dengan lorong, sedangkan lorong-lorong tersebut juga mempunyai pintu penghubung dengan selasar di kanan kirinya. Khusus pada lorong timur terdapat pintu penghubung dengan bilik tengah. Di dalam bilik tengah terdapat sebuah asana lengkap dengan sandaranyya yang ditempatkan merapat ke dinding barat ruangan. Diduga asana tersebut dahulu diisi Arca Manjus’ri yang tingginya kurang lebih 360 cm. Sedangkan setiap bilik penampil diduga dahulu berisi enam arca yang diletakkan dalam enam relung, masing-masing tiga relung.
Relief-relief yang menggambarkan beberapa penari dan pemain kendang, terdapat pada dinding luar pagar langkan. Gana (makhluk kayangan yang digambarkan seperti orang cebol) terdapat pada sudut-sudut bangunan.
Candi Induk Sewu mempunyai sembilan atap yang terdiri atas empat atap penampil, empat atap lorong, dan satu atap bilik utama, yang semua puncaknya berbentuk stupa. Atap bilik utama merupakan atap yang paling besar dan paling tinggi yang terdiri dari tiga tingkatan. Hiasan-hiasan yang ada pada atap candi antara lain pilaster-pilaster, relung-relung, dan antefik-antefik berhias dewa dan motif tumbuh-tumbuhan. Di dekat candi Sewu terdapat candi-candi maupun situs-situs yang kurang terpelihara. Sebagian candi maupun situs ini sudah tinggal reruntuhan
(Tulisan oleh Suyatno dimuat di Mingguan Trisula).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s