Mereka adalah Spirit Kita

Nick Vujicic

Nick Vujicic

Saya sangat terkesima saat melihat penampilan Nick Vujicic, seorang motivator internasional saat tampil di salah satu stasiun televisi. Nick tidak memililiki tangan dan kaki seperti kita, namun ia bisa melakukan semua yang dilakukan oleh manusia kebanyakan : memakai baju, berjalan, makan, minum, berenang dan menggunakan komputer untuk mengerjakan tugas dan bersosialisasi di jejaring sosial. Dan yang terhebat, ia mampu mencapai impiannya menjadi seorang motivator internasional.

Di Solo kita mengenal Sabar, seorang atlet panjat tebing dan petualang sejati. Penyandang difabel pertama di dunia yang mampu menaklukkan gunung Elbrus, gunung tertinggi di Rusia. Hal itu pula yang kemudian membawa Sabar memperoleh kesempatan untuk menyalakan api pembukaan 6th ASEAN Para Games 2011 di Solo 12-22 Desember 2011. Tidak sampai disitu ia masih memiliki semangat membara untuk melakukan hal-hal hebat lainnya.

Dua contoh diatas menunjukkan bahwa penyandang difabel adalah manusia normal, bahkan acapkali mampu melakukan hal-hal yang kita anggap mustahil dan tidak bisa kita lakukan. Mereka menjadi motivator penguat bagi kita (termasuk saya), bagaimana tidak mereka yang secara fisik kurang beruntung, namun memiliki semangat yang luar biasa. Penyandang difabel bukan orang cacat yang harus dihindari. Justru seharusnya kita bangga memiliki teman/karyawan penyandang difabel.

Penyediaan sarana untuk difabel adalah kebutuhan

Halte Batik Solo Trans setelah diperbaiki ditambah dengan penanda untuk tuna netra (garis kuning tengah) dan tangga untuk kursi roda

Halte Batik Solo Trans setelah diperbaiki ditambah dengan penanda untuk tuna netra (garis kuning tengah) dan tangga untuk kursi roda

Bagi anda yang tinggal di Solo mungkin anda heran halte Batik Solo Trans (BST) yang sudah jadi dirombak ditambah jalan lorong memanjang. Ini tak lain untuk memberikan akses bagi kursi roda. Kita patut bersyukur bahwa pemerintah daerah (Pemda) Surakarta mau menerima masukan dari penyandang difabel maupun masyarakat sehingga halte BST memberikan aksibilitas bagi penyandang difabel. Aksibilitas ini hendaknya tidak terbatas pada fasilitas halte/transportasi saja, namun disemua hal seperti gedung maupun penyelenggaraan kepentingan lain seperti rekruitmen tenaga kerja. Tidak saja pada sarana publik milik pemerintah, namun juga badan usaha.

Sejauh yang saya amati : hotel, pusat perbelanjaan dan sarana publik lainnya masih setengah hati melengkapi sarana untuk difabel. Mereka masih sekedar melengkapi untuk menggugurkan kewajiban. Maka yang terjadi fasilitas itu asal jadi, tidak peduli tangga untuk kursi roda terlalu tinggi, atau terlalu sempit. Seandainya motivasi untuk melengkapi fasilitas untuk difabel.

Hal ini diamini oleh Purwanti, salah satu pengurus Interaksi dalam sarasehan memperingati World Disability Day, 3 Desember 2011. Menurutnya beberapa fasilitas difabilitas justru mengalami kemunduran seperti di Kantor pos Solo. Akses jalan masuk untuk difabel justru lebih baik sebelum renovasi gedung. Setali tiga uang akses fasilitas publik yang lain pun masih memprihatinkan seperti trotoar yang terlalu sempit, turunan yang terlalu curam dan yang lebih memprihatinkan trotoar yang seharusnya untuk jalan kursi roda justru digunakan untuk berdagang.

Mereka Juga bisa Berprestasi
Beberapa waktu yang lalu saat penyelenggaraan ASEAN Para Games 2011 di Solo, saya berkesempatan menyaksikan para atlet difabel berlaga. Saya sangat terkesima dengan spirit juang mereka. Semangat mereka begitu menggebu untuk meraih prestasi tertinggi. Dan yang membanggakan ASEAN Para Games 2011 di Solo ini mampu memecahkan 302 rekor baru. Namun menurut saya ada satu hal yang harus dikaji ulang oleh pemerintah terkait dengan pemberian bonus . Menurut saya akan sangat bijak jika bonus yang diberikan tidak terpaut jauh dari ASEAN Games 2011. Memang tingkat kompetitifnya berbeda, namun pemerintah hendaknya lebih adil dan bijaksana.

Mengutip kata-kata Habibie Afsyah, seorang pebisnis online yang sukses menjalankan bisnis dari kursi roda : kelemahanku adalah kekuatanku. Semangat itulah yang membara dari para difabel, dan semoga semangat yang sama menular kepada kita yang memiliki fisik lebih lengkap.

Video profile Nick Vujicic :

2 thoughts on “Mereka adalah Spirit Kita

  1. Seperti saya pernah ngetwit: bagi kawan yang kurang semangat, cobalah melihat pertandingan Para Games, itu motivasi yang sangat ampuh.
    Tapi, kalau ada seorang penyandang cacat yang juga motivator, saya baru tahu itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s