Ini dia 10 Tempat Wisata Favorit di Solo Raya

Solo Raya adalah kawasan yang merupakan eks karesidenan Surakarta yang meliputi Solo, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Klaten, Wonogiri dan Boyolali. Potensi wisata di daerah ini cukup banyak, mulai dari wisata alam hingga wisata sejarah dan kuliner. Berikut 10 tempat wisata favorit di Solo Raya :

1. Keraton Kasunanan Surakarta Keraton Surakarta dibangun oleh Pakoe Boewono II pada tahun 1745 Masehi. Luas bangunan keraton ini mencapai 54 hektar.  Bangunan utama terdiri dari : Pagelaran, Siti Hinggil, Kori Brojowolo, Kori Kamandungan, Kori Sri Manganti, Panggung Sangga Buwana, Sasana Sewaka, Sasana Pustaka, dan Maligi. Didalam keraton terdapat museum yang menyimpan benda sejarah mulai dari kereta kencana, senjata, arca, peralatan kesenian rakyat, hingga berbagai alat upacara. Di bangunan belakang kori kamandungan terdapat menara yang disebut Panggung Sanggabuwana yang konon digunakan oleh Susuhunan untuk bersemedi dan bertemu Nyai Rara Kidul, penguasa Pantai Selatan. Konon, dulunya tidak boleh ada bangunan yang lebih tinggi dari menara ini. Namun dalam perkembangannya sekarang banyak bangunan bertingkat di kota Solo yang lebih tinggi dari Sanggabuana. Museum Keraton Surakarta buka dari Hari Senin sampai Hari Kamis jam 9.00 WIB-14.00 WIB, sementara Hari Sabtu dan Minggu jam 9.00 WIB-15.00 WIB. Tiket masuk ke museum ini sebesar Rp10.000 pada hari biasa dan Rp15.000 pada akhir pekan.

2. Grojogan Sewu Kalau mau tempat yang sejuk dan adem, kita bergeser 35 km dari kota Solo menuju Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Disini terdapat grojogan sewu yang memiliki tinggi mencapai 80 m. Nama Grojogan Sewu berasal dari ukuran seribu pecak atau satuan jarak yang digunakan saat itu yang merupakan tinggi air terjun. Satu pecak sama dengan satu telapak kaki orang dewasa. Jadi grojogan sewu adalah air terjun yang memiliki tinggi seribu pecak. Tempatnya yang berada di lereng Gunung Lawu dengan hawa yang sejuk menjadi tujuan utama wisata alam. 3. Istana Mangkunegaran Istana Mangkunegaran atau yang biasa disebut Pura Mangkunegaran ini dibangun pada 1757 oleh Raden Mas Said yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sambar Nyawa, setelah penandatanganan Perundingan Salatiga pada tanggal 13 Maret. Raden Mas Said kemudian menjadi Pangeran Mangkoe Nagoro I. Saat masuki kompleks istana Mangkunegaran kita akan disuguhi dengan halaman luas dengan kolam di tengah-tengahnya. Di depannya terdapat pendopo yang sangat luas. Pendopo yang disebut Pendopo Agung ini dipakai untuk tempat untuk menghadap pangeraan, selain itu difungsikan juga untuk berbagai acara seperti penobatan, serta pementasan tari. Pura Mangkunegaran dibuka untuk umum setiap hari jam 09.00-14.00, Jumat jam 09.00-12.00, Minggu jam 09.00-14.00. Ada juga beberapa koleksi kereta yang digunakan untuk upacara-upacara tradisional.

Istana Mangkunegaran

Istana Mangkunegaran

Pendopo Agung

Pendopo Agung

4. Museum Purbakala Sangiran Museum Sangiran terletak di kabupaten Sragen, 17 km arah utara kota Solo. Museum ini didirikan pada tahun 1988 di desa Krikilan, Kalijambe, Kabupaten Sragen. Di museum ini kita bisa menjumpai informasi lengkap manusia purba di pulau Jawa. Disini jejak peninggalan 2 juta tahun lalu masih ada, bahkan masih terus ditemukan hingga saat ini. Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus erectus (salah satu spesies dalam taxon Homo erectus) oleh arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald. Situs Sangiran menjadi rujukan bagi penelitian manusia purba dan menjadi tempat favorit bagi sekolah untuk melalukan studi wisata. Informasi tentang museum sangiran dapat anda peroleh di http://sangiranmuseum.com  5. Pandawa Water Park Pandawa Water Park merupakan wisata air kelas internasional bertema tokoh pewayangan Pandawa (Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula dan Sadewa). Ada 27 wahana di lokasi ini : Action River, Fantastic Slide, Warm Spa, Sight Tower, Bima Slide, Raft Slide, Gatotkaca Bungy Tower dll. favorit pengunjung yaitu Kresna Wave Pool disini air kolamnya berombak, jadi saat Anda berenang di kolom ini ada seperti menikmati sensai berenang di pantai, serta Black Hole Slide wahana ini cukup menantang ardenalin Anda, Anda bisa meluncur disepanjang lorong yang gelap gulita hingga ke dasar. Harga Tiket : Senin s/d Jum’at : Rp 80.000,- Sabtu & Minggu : Rp 100.000,- 6. Candi Sukuh Candi Sukuh terletak di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Lokasinya berdekatan dengan kebun teh Kemuning, Grojogan Jumog dan Parang Ijo. Candi sukuh merupakan candi Hindu, diperkirakan dibangun didirikan pada akhir abad ke-15 M. Bangunan Candi Sukuh sekilas mirip dengan bangunan suku Maya di Amerika Selatan. Bahkan beberapa orang menduga ada hubungan antara candi sukuh dengan suku Maya. Lokasi candi ini berada di ketinggian + 910 merer di atas permukaan laut. Udaranya sangat sejuk dan anda pasti akan terpukau dengan pemandangan yang bagus. Candi sukuh dipenuhi dengan relief yang bernuansa mistis. Ada kemungkinan candi ini dibuat pada saat kepercayaan animisme masih sangat kental. Selain bangunan candi, di Candi Sukuh juga dapat ditemui berbagai relief, seperti relief Bima yang menempa keris bersama Ganesha dan Arjuna. Lalu ada pula relief Dewi Kala yang berubah jadi raksasa yang ingin memangsa Sadewa yang berada dalam keadaan terikat. Selain itu, ada beberapa patung berbentuk garuda yang berukuran cukup besar, serta beberapa patung dengan bentuk pria yang sedang menggenggam (maaf) alat kelaminnya.  7. Candi Cetho Candi Cetho merupakan candi bercorak Hindu. Lokasinya masih berada di Ngargoyoso, Karanganyat. Ketika ditemukan keadaan candi ini merupakan reruntuhan batu pada 14 teras/punden bertingkat, memanjang dari barat (paling rendah) ke timur, meskipun pada saat ini tinggal 13 teras, dan pemugaran dilakukan pada sembilan teras saja.  8. Air Terjun Jumog Air Terjun Jumog adalah alternatif  tempat wisata alam yang terkenal di daerah Solo, Jawa Tengah. Air Terjun Jumog tidak kalah indah dari air terjun Grojogan Sewu Tawangmangu. Berjarak sekitar 40 KM dari kota Solo, Air Terjun Jumog menawarkan wisata alam dengan panorama indah dan harga yang murah. Cukup dengan 5,000 Rupiah anda sudah dapat menikmati keindahan Air Terjun Jumog dan bermain air di bawah air terjun tersebut.  9. Air Terjun Parang Ijo Air terjun ini memiliki tinggi sekitar 50 m dan berada diketinggian 1.000 m dari permukaan air laut, menempati kawasan seluas 2 Ha di lereng Gunung Lawu. Di kawasan ini juga sudah dilengkapi dengan kolam renang, area penjualan makanan dan minuman, mushola, ruang pertemuan, dan gardu pandang di sepanjang bukit di sisi selatan air terjun. Untuk masuk ke lokasi ini, anda cukup membayar Rp. 2.500, sangat murah bukan ! Daya tarik lain dari lokasi wisata ini adalah adanya air terjun kecil (semacam rembesan air sepanjang sekitar 20 meter dan setinggi 10 m). Aliran air ini nampak begitu indah saling bersambung menjadi satu-kesatuan. Dari kejauhan nampak seperti kaca yg dialiri air. Kalau belum puas, silahkan berkeliling menaiki seribuan tangga menuju bukit di atas air terjun. Ditanggung anda akan menyerah ditengah jalan. Namun jangan khawatir, anda bisa sejenak melepas lelah di salah satu gardu pandang  sembari mengumpulkan tenaga. Sebenarnya dari bukit ini kita bisa menikmati pemandangan di kawasan air terjun dan pemandangan luas kota Karanganyar dan kota Solo, namun sayang rerimbunan pohon menghalangi sebagian pandangan kita.  10. Wisata Belanja Kampoeng Batik Kauman dan Laweyan Berbicara batik di kota Solo tak akan ada habisnya mulai Kampoeng Batik Laweyan hingga Kampoeng Batik Kauman. Karena begitu kaya akan ragam batik . Kampoeng Kauman merupakan kampung kuno tempat pejabat agama Islam (dari yang berpangkat bupati sampai ke bawah Kaum) maka dinamakan Kauman. Kampung Kauman dikelilingi oleh Jl. Rajiman (Coyudan) bagian selatan dahulu pernah tinggal abdi dalem keraton yang bernama Ngabehi Secayuda, Jl Nonongan sebelah selatan ada yang bernama daerah Gerjen (dahulu tempat para penjahit dan desain baju kraton). Bagian utara Jl. Slamet Riyadi sebagai jalan strategis kerajaan dan residen Belanda. Disamping itu dikelilingi tempat-tempat yang bersejarah seperti Gladak, Beteng, Slompretan (sekarang Pasar Klewer). Kampung Kauman dahulu disebut Pakauman merupakan tempat Pengulu Tapsir Anom, Ketib, modin, Ngulama dan kaum. Bahkan kaum di waktu pemerintahan PB IV telah memberlakukan peraturan khusus sebagai kampung bersih kejahatan. Kampung kauman pada saat ini, lebih strategis. Hal ini dikarenakan terletak di titik kota Solo yang bersandingan dengan berbagai pusat keramaian. Diantaranya Nonongan, Coyudan, Jl Samet Riyadi dengan gedung perbankan dan perdagangan yang menjulang tinggi. Dekat dengan pusat budaya keraton Surakarta Hadiningrat dan Alun-alun, dekat dengan pusat perdagangan tekstil terbesar di Jawa Tengah yakni pasar Klewer serta dikelilingi dengan berbagai gedung yang merupakan pusat aktifitas manusia seperti pertokoan, hotel dan lain-lain. Jika kita berkeliling di jalan-jalan utama di Kampoeng Batik Kauman kita akan menjumpai deretan bangunan kuno dan menyaksikan di kanan kiri berdiri galeri batik. Diantara Galeri batik yang dapat kita jumpai di beberapa ruas jalan Wijaya Kusuma, Jl Trisula, Jl. Hasyim Ashari dan Jl. Yos Sudarso adalah Batik Gunawan Setiawan, Batik Kaoeman, Batik Qisti Mas’adi, Batik Dakon Mas, Batik Sekar Melati, Rumah Mode Batik Sabrina, Batik Pratama, Batik Sekar Tadji, Mahendra Jaya Busana adat Jawi, Panama Taylor & Busana Jawi, Tisik Batik Halus Kartika, Batik Somokartosono, Batik Noer dan Ratu Batik. Cobalah anda berbelanja sembari menikmati pesona kejayaan masa lalu. Selamat berbelanja. Kampung Batik Laweyan merupakan kawasan sentra industri batik yang sudah ada sejak zaman kerajaan Pajang tahun 1546 M dan mencapai kejayaan pada era 1970an. Karya seni tradisional batik terus ditekuni masyarakat Laweyan sampai sekarang. Suasana kegiatan membatik di Laweyan tempo dulu banyak didominasi oleh keberadaan para juragan batik sebagai pemilik usaha batik. Jika kita berkunjung kesana, kita dapat melihat sendiri proses pembuatan batik, tentunya ini pengalaman yang tidak akan kita dapatkan di toko atau butik di tempat lain. Sebagai langkah strategis untuk melestarikan seni batik, kampung Laweyan di desain sebagai sebuah perkampungan batik, bahkan secara resmi telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Solo sebagai salah satu objek wisata belanja yang menjadi salah satu andalan kota Solo. Kawasan terpadu ini memanfaatkan lahan seluas kurang lebih 24 Ha yang terdiri dari 3 blok. Konsep pengembangan terpadu dimaksudkan untuk memunculkan nuansa batik dominan yang secara langsung akan mengantarkan para pengunjung pada keindahan seni batik. Sebagai bukti keseriusan pemerintah dalam hal ini Pemerintah Kota Surakarta untuk mengembangkan kawasan batik di Solo, Pemkot melalui Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya (Disparbud) secara rutin menggelar Festival Batik. Dan untuk tahun ini Solo Internasional Batik Festival akan diselenggarakan pada bulan Juli 2007. Diantara ratusan motif batik yang dapat ditemukan di kampung batik Laweyan, jarik dengan motif Tirto Tejo dan Truntun merupakan ciri khas utama batik Laweyan. Spray dan garmen dengan motif warna abstrak adalah seni batik pendukung yang melengkapi koleksi batik Laweyan. Kampung batik Laweyan juga dilengkapi dengan fasilitas untuk memberikan pendidikan dan pelatihan untuk belajar membatik tanpa batasan jumlah orang yang belajar dan asih bersifat sosial. Pengelolaan kampung batik Laweyan diorientasikan untuk menciptakan suasana wisata dengan konsep rumahku adalah galeriku. Artinya rumah memiliki fungsi ganda sebagai showroom sekaligus rumah produksi. Tentu ini akan memberikan pengalaman belanja lain dari biasanya. Disepanjang jalan perkampungan ini kita dapat menemukan sedikitnya 20 showroom/galeri batik. Beberapa galeri yang dapat kita temukan diantaranya Batik Puspa Kencana, Morin Modiste, Nesa Noer, Cempaka, Gunawan Design, Gres Tenan, Molino, Chusnul Khotimah, Tjahaya Baru, Nugroho, Santika, Sidoluhur, Adityan, Merak Ati, Jjokro Sumanto, Gentong Ayu, Putra Laweyan, Luar Biasa, Merak Manis dan Cahaya Putra. Di perkampungan ini kita juga dapat menjumpai beberapa situs sejarah masa lalu diantaranya makam Kyai Ageng Anis (tokoh yang menurunkan raja-raja Mataram), bekas rumah Kyai Ageng Anis dan Sutowijoyo (Panembahan Senopati), bekas pasar Laweyan, bekas Bandar Kabanaran, makam Jayengrana (Prajurit Untung Suropati), Langgar Merdeka, Langgar Makmoer dan rumah H. Samanhudi pendiri Serikat Dagang Islam. Keberadaan situs ini semakin menambah kekentalan nuansa sejarah kejayaan masa lalu. Laweyan juga terkenal dengan bentuk bangunan khususnya arsitektur rumah para juragan batik yang dipengaruhi arsitektur tradisional Jawa, Eropa, cina dan Islam. Maka tak salah jika kampung Laweyan pada masa lalu mendapatkan julukan sebagai ”Kampung Juragan Batik”. Bangunan-bangunan tersebut dilengkapi dengan pagar tinggi atau “beteng” yang menyebabkan terbentuknya gang-gang sempit spesifik seperti kawasan Town Space. Kelengkapan khasanah seni dan budaya Kampung Batik Laweyan tersebut menjadi sebab tingginya frekuensi kunjungan wisatawan dari dinas dan institusi pendidikan, swasta, mancanegara.

1 Banner Jan-Feb 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s